INILAH ANAK YANG KUKASIHI, DENGARKANLAH AKAN DIA !

Referensi Kotbah 11 Februari 2018
Markus 9 : 2 – 13

Salah satu peristiwa penting dalam hidup Tuhan Yesus Kristus di dunia ini yang disaksikan oleh murid-Nya adalah peristiwa Yesus dimuliakan di atas gunung. Ini bukan sekedar sebuah penampakan bagaimana Yesus dimuliakan, tetapi terlebih penting adalah makna yang terkandung dalam suara Allah yang didengar oleh murid-murid-Nya: “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia.” Perintah dan penyataan dari Allah kepada murid-murid ini sangatlah penting. Penyataan dan perintah ini tentu juga ditujukan bagi jemaat Tuhan pada masa ini. Ada beberapa hal penting yang perlu menjadi perhatian jemaat.

1. Inilah Anak.
“Inilah Anak” adalah penegasan penting dari Allah Bapa, bahwa Yesus adalah Mesias, Juruselamat yang telah diberitakan oleh para nabi. Hal ini dijelaskan dalam percakapan antara Tuhan Yesus dengan Petrus, Yakobus, dan Yohanes ketika mereka turun dari bukit (ayat 9-13). Selanjutnya, penyataan Allah bahwa “inilah Anak” tentu bukan hanya untuk meyakinkan para murid pada waktu itu, tetapi juga bagi jemaat Tuhan masa kini. Hal ini penting, sebab Yesus yang diimani oleh jemaat adalah Mesias, Juruselamat yang menebus manusia dari kutuk dosa dengan kematian-Nya di kayu salib (ayat 9), sebuah keyakinan yang didasarkan pada penyataan Allah sendiri.

2. Kukasihi
Bagi Allah Bapa, Yesus Kristus bukan hanya Anak tetapi juga dikasihi. Sebagaimana Allah sangat mengasihi manusia berdosa (Yohanes 3:16), Ia juga sangat mengasihi Anak-Nya yang tunggal.

Penyataan ini menegaskan betapa berharganya karya salib, sebab yang dikurbankan ialah Anak Allah yang sangat dikasihi-Nya. Penyataan ini menunjukkan betapa bernilainya manusia berdosa sebab ditebus dengan memberi nyawa Anak-Nya, Anak yang dikasihi-Nya. Jika Allah mengasihi, seharusnya jemaat Tuhan juga sangat mengasihi Kristus yang telah memberi segalanya. Kasih jemaat kepada Tuhan Yesus pasti nampak dalam kesediaannya untuk ikut ambil bagian dalam pelayanan gereja.

3. Dengarkan
Istilah “dengarkan” merujuk kepada suara surgawi yang didengar oleh Petrus, Yakobus dan Yohanes bukan hanya dalam pengertian kemampuan fisik manusia untuk mendengarkan suara, tetapi memuat makna bahwa para pendengar juga harus percaya dan taat; bahwa apa yang dikatakan dan diajarkan Kristus adalah kebenaran yang membawa kepada keselamatan. Allah jugam memerintahkan jemaat-Nya untuk mendengar, mempercayai, dan mentaati ajaran Kristus: bukan hanya mendengar tetapi melakukan apa yang ia dengar.

Pertanyaannya ialah: “Bagaimana dengan kita?”

~ Pdt. Dennie Olden Frans ~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *