| Pengarus Religius Dalam Budaya |
|
|
|
| Written by Web-admin |
| Saturday, 13 February 2010 08:11 |
|
I Korintus 8 : 1-13 Terlebih dahulu kita harus bisa membedakan antara ciptaan dan budaya. “Ciptaan” adalah karya Allah atau apa yang Allah buat sendiri; misalnya matahari, bulan, bintang, tumbuh-tumbuhan, binatang, manusia. Sedangkan “kebudayaan”, adalah karya manusia; misalnya desa, kota, semua lembaga (keluarga, gereja, pemerintahan), ekonomi,politik, karya seni, dll. Jadi kebudayaan bukan ciptaan Allah, tetapi merupakan perintah Allah kepada manusia. Kejadian 1 : 28, Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka : “Beranak cuculah dan bertambah banyak; berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi” dan Kejadian 2 : 15, “Tuhan mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam Taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.” Ayat-ayat ini sering disebut sebagai “mandat budaya” Allah kepada manusia . Jadi kebuyaan adalah sesuatu yang benilai bagi Allah, oleh sebab itu kebudayaan harus tunduk pada perintah Allah, kehendak Allah dan nilai-nilai Allah. I Korintus 8 :1-13, berbicara mengenai pemberian persembahan kepada berhala, dimana hal ini juga merupakan budaya yang dilakukan oleh jemaat di Korintus. Pada jaman itu setiap penyembelihan binatang berkaitan dengan upacara ritual, dan sisa dagingnya dijual ke pasar. Hal ini membuat gelisah jemaat di Korintus. Sehingga timbul permasalahan antara mereka yang berpengetahuan dan yang tidak berpengetahuan tentang boleh tidaknya makan daging yang telah dipersembahkan kepada berhala. Paulus memberikan nasihat dan pengertian kepada mereka : 1. Mereka yang berpengetahuan janganlah sombong, sehingga membuat orang tidak dapat dimenangkan bagi kebenaran. 2. Mereka yang berpengetahuan hendaknya mempunyai kasih, sehingga dapat merangkul orang lain. 3. Mereka yang berpengetahuan dapat mempertimbangkan saudara-saudaranya yang lemah imannya sehingga tidak menjadi batu sandungan bagi mereka. Dalam hal ini orang yang berpengetahuan mau berkorban dan membatasi kebebasannya. Kita yang hidup di tengah keaneka-ragaman budaya, hendaknya kita dapat mengintegrasikan iman percaya kita. Seseorang yang sudah sungguh percaya dan menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya maka seluruh hidupnya, baik pikiran-perkataan-dan perbuatan harus berubah arah. Semua yang dilakukan haruslah dilakukan bagi kemuliaan Allah. Kita tidak lagi dipengaruhi oleh budaya-budaya yang sudah tercemar oleh keberdosaan manusia, tetapi justru kita yang sudah ditebus dari dosa bisa memberikan pegaruh kekristenan kita dalam budaya yang ada di sekitar kita. Oleh sebab itu mari kita yang mempunyai pengetahuan akan kebenaran dengan kasih Kristus merangkul mereka yang belum percaya atau yang lemah imannya, supaya mereka juga boleh mengenal akan kebenaran di dalam Kristus.
Oleh : Pnt.K. Puspa Noviana
|
| Last Updated on Saturday, 13 February 2010 08:18 |