INDAHNYA KEBERSAMAAN DALAM KEBERAGAMAN

Referensi Kotbah 05 Agustus 2018

Efesus 4 : 1 – 16; Yohanes 17; I Korintus 12

Presiden Jokowi beberapa hari lalu mengatakan, harta paling berharga bagi Indonesia adalah persatuan. Indonesia suatu negara besar dengan lebih dari 17.000 pulau, 714 suku; dengan budaya, adat, tradisi dan bahasanya yang saling berbeda. Disamping 6 agama besar yang diakui pemerintah, ada puluhan agama suku, dan aliran kepercayaan yang berbeda-beda. Apalagi agama, sesuatu yang sangat sensitif dapat memecah belah. Peristiwa Ambon dan Maluku Utara yang menelan korban puluhan ribu jiwa dan rumah / bangunan musnah terbakar, juga dengan memanfaatkan sensitifitas agama. Hal yang sama terjadi juga pada pilkada DKI. Oleh sebab itu, benar yang dikatakan presiden, persatuan itu sangat berharga.
Dalam keluargapun apabila tidak ada harmoni, kebersamaan diantara para anggota keluarga, pastilah keluarga itu tidak akan merasakan bahagia. Betapa berhasilpun keluarga itu secara finansial, karier, tetapi tanpa keharmonisan, pasti tidak bahagia. Demikian juga didalam gereja, diantara orang-orang Kristen, kebersamaan adalah hal yang sangat penting. Dalam Yohanes 17, Tuhan Yesus sampai 4 kali berdoa untuk persatuan diantara orang-orang percaya, persatuan / keesaan gereja (Yohanes 17 : 11, 21, 22, 23 “supaya mereka semua menjadi satu”). Mengapa ? Karena Tuhan Yesus tahu bahwa perpecahan adalah bahaya yang selalu mengancam gereja. Gereja penuh dengan keberagaman. Keberagaman etnis, budaya, doktrin / ajaran dan karunia. Tidak mudah keberagaman ini dibersamakan untuk pertumbuhan gereja.

Dari permulaan sudah ada masalah antara orang Kristen Yahudi dengan yang bukan Yahudi; antara kelompok Yesus, kelompok Paulus, kelompok Petrus dan kelompok Apolos.
Demikian juga ada masalah diantara orang-orang yang berbeda karunia; ada karunia memimpin, karunia menyembuhkan, karunia bernubuat dan lain-lain.
Karena itulah Rasul Paulus sangat menekankan pentingnya kebersamaan. Kepada jemaat di Korintus, dia menggambarkan gereja seperti tubuh; ada kepala, ada tangan, ada mata dan lain-lain, yang saling berbeda; berbeda bentuk, letak dan fungsinya, tetapi semuanya sama penting, bahkan harus saling melengkapi agar tubuh menjadi sempurna. Kepada jemaat di Efesus, Rasul Paulus mengatakan ; “Tuhanlah yang memberikan baik rasul-rasul, maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus.”
Dengan ini Rasul Paulus mengatakan, keberagaman itu adalah pemberian Tuhan “given”, yang harus diterima. Semua itu diperlukan dan harus dibersamakan untuk pembangunan gereja Tuhan. Pekerjaan membersamakan, bukan menyeragamkan, keberagaman ini bukan pekerjaan mudah; sekalipun demikian, tidak bisa tidak, harus kita usahakan. Karena itu jugalah Tuhan Yesus berulang-ulang mendoakannya “supaya mereka semua menjadi satu”.

~ Pdt. Em. Kumala Setiabrata ~