“HATI-HATILAH TERHADAP KESALEHAN PALSU”

Referensi kotbah 04 November 2018
Markus 12 : 38 – 44

Zaman sekarang hampir semua segi kehidupan sudah dipalsukan: baju, sepatu, aksesoris, smartphone, ijazah, obat, telur; bahkan belakangan ini berita palsu marak menjadi alat politik dan kekuasaan. Jadi hidup sekarang harus berhati-hati dengan segala bentuk kepalsuan.
Lebih tragis lagi, ketika kepalsuan kita temukan di dalam tindakan, sikap, dan kegiatan keagamaan. Apa yang perlu kita lakukan dan ubah? Seharusnya di dalam kegiatan agama kita mempertahankan kebenaran, bukan kerohanian palsu, menceritakan kasih Tuhan dan menunjukkan kasih kepada sesama dengan baik dan tulus.
Di injil Markus Tuhan Yesus mengingatkan para pengikut-Nya untuk berhati-hati terhadap ahli-ahli Taurat yang suka memamerkan kesalehan yang palsu untuk menerima penghormatan manusia. Sebaliknya, Tuhan memuji persembahan janda yang memberi segala yang dimilikinya.
Apa yang dilakukan oleh ahli Taurat? Secara penampilan ia sangat meyakinkan, punya kekuasaan dan jabatan rohani, tetapi ternyata semua itu bukan jaminan bahwa apa yang ia lakukan benar dan dapat dipertanggungjawabkan. Ia pintar mengelabui orang-orang dengan doa yang panjang. Tuhan Yesus mengingatkan pengikutnya agar berhati-hati terhadap pemimpin agama yang mencari penghargaan dan penghormatan dari manusia dan mereka akan mendapatkan hukumannya.

Sementara itu, janda yang miskin memberikan persembahan hanya dua peser dan Tuhan memuji persembahan yang diberikan oleh janda miskin itu: orang lain memberi dari kelebihannya tetapi janda itu memberi dari kekurangannya (ay 41-44). Tuhan Yesus mengukur persembahan bukan dari jumlahnya, tetapi dari kasih, iman, dan pengorbanan dari persembahan itu (lih Lukas 21:1-4).
Jadi melalui pengajaran Yesus kita mendapat nilai-nilai yang perlu kita renungkan agar berhati-hati terhadap kesalehan palsu:
1. Jangan terpedaya pada penampilan keagamaan. Melalui kisah ahli Taurat kita disadarkan bahwa sering keagamaan digunakan untuk kepentingan kekuasaan. Melalui tindakan-tindakan keagamaan dengan mudahnya menyembunyikan kebusukan dan mau dibilang rohani padahal perbuatannya tidak mencerminkan kerohanian. Jikalau itu tetap dilaksanakan maka para pemuja agama dengan kerohanian yang dangkal akan mendapatkan hukumannya.
2. Tuhan melihat kedalaman hati. Melalui janda yang miskin Tuhan melihat pemberian yang dilakukan dengan kasih, iman, dan pengorbanan. Pemberian janda miskin mendapat pujian dari Yesus; semua orang bisa memberi dari apa yang dimiliki tetapi janda itu memberi dari kekurangannya.
Memang untuk memahami dan mengetahui tindakan ini Tuhan pun mengatakan “Berhati-hatilah terhadap ahli-ahli Taurat….” Hati-hati dengan kesalehan yang palsu, di sini diperlukan kepekaan. Tidak perlu hidup dalam kepalsuan. Agama bukan untuk mencari kehormatan, kekuasaaan dan keuntungan pribadi. Tetapi kita diundang untuk menghasilkan buah yang selaras dengan identitas kita sebagai anak Allah. Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik (Matius 7:17).

~ Pnt.K. Andri Wahyudi ~