Hasilkan Buah Sesuai Pertobatan

 

Referensi Kotbah Minggu 17 Desember 2017
Matius 3 : 1 – 12

Salah satu penggenapan dari nubuat nabi Yesaya akan kedatangan Mesias yang dijanjikan adalah tampilnya di padang gurun, seorang yang menyerukan berita tentang pembaharuan spiritualitas dalam rangka kedatangan Mesias. Dan nubuat tersebut dicatat oleh keempat Injil digenapi dalam diri Yohanes Pembaptis. Yohanes Pembaptis dengan kesederhanaan penampilan, menyerukan sebuah berita pertobatan bagi umat Allah. Penulis Injil seakan ingin menegaskan bahwa kehadiran Yesus Kristus di dunia adalah dalam rangka menghadirkan Kerajaan Allah dan mereformasi spiritualitas umat Allah.
Pertobatan umat Allah saat itu juga diwarnai dengan ritual baptisan. Tentu saja baptisan yang Yohanes lakukan agak berbeda dengan baptisan yang dilakukan oleh gereja-gereja saat ini (bdk. Kis 19:3-4). Ritual baptisan Yahudi sebelum kekristenan, memang lazim dilakukan sebagai tanda penyucian seseorang dari sesuatu yang kotor atau najis (dikenal dengan istilah Tevilah). Aturan ritual pembasuhan dapat kita lihat beberapa di kitab Imamat. Sekali lagi penulis Injil juga ingin memperlihatkan sebuah keadaan reformasi spiritual yang harus terjadi dalam rangka kedatangan Mesias.
Apa yang kita perlu perhatikan agar reformasi spiritual terjadi dalam hidup kita? Bagaimana buah pertobatan dapat dihasilkan dalam hati kita? Pertama, dengan rendah hati menghadap hadirat Allah mengakui dosa-dosa dan membereskannya di hadapan Tuhan. Di ayat 6, orang banyak datang dibaptis sambil mengaku dosa. Mereka datang karena hati mereka berduka atas dosa mereka.

Apakah kita juga memiliki hati yang hancur atas dosa-dosa kita? Apakah kita juga siap berkomitmen untuk membereskan dosa-dosa yang masih tersimpan dalam hati?
Kedua, hidup bergantung di dalam anugrah Tuhan. Hal yang menjadi teguran Yohanes terhadap orang Farisi dan Saduki di ayat 9, adalah kemegahan mereka atas dasar keturunan Abraham. Hidup kekristenan adalah hidup anugrah. Ketika kita merasa memiliki sebuah hal yang dimegahkan dalam kesalehan, maka sesungguhnya kita sedang bermegah atas kekuatan diri sendiri. Dan itu berarti kita sedang tidak bergantung dalam Tuhan. Orang yang hidupnya tidak bergantung pada Tuhan, yang tidak mengerti arti anugrah Tuhan, akan sulit menghasilkan buah di dalam kehidupannya.
Ketiga, hidup yang beriman dalam Kristus Yesus. Pelayanan yang Yohanes sedang lakukan bukanlah semacam berita moralitas, yang hanya fokus pada kehidupan yang baik, berubah, dsb. Namun pelayanan yang Yohanes lakukan adalah pelayanan yang mengarah kepada Kristus (ay.11). Dia merujuk kepada Mesias yang akan datang. Segala usaha pertobatan kita tidak bisa dilepaskan dari kehidupan kita di dalam Kristus. Di luar Kristus kita tidak bisa berbuat apa-apa, namun di dalam Kristus kita dapat berbuah banyak (Yoh 15:5). Tanpa Kristus, pertobatan kita hanya menjadi sebuah tindakan moral belaka yang tidak menghasilkan buah sesungguhnya.
Marilah dalam rangka memperingati kelahiran Kristus, kita juga serius terhadap reformasi spiritual di dalam diri kita. Kita merayakan kelahiran Kristus dengan mengarahkan hati kita lagi kepada Dia, membereskan segala ketidak-beresan yang ada dalam kehidupan rohani kita. Kiranya hati kita bersiap menyambut kedatangan Tuhan. Amin

~ Pnt.K. Richard Natasasmita ~

Leave a Reply