Haruskah Menikah

Referensi Kotbah 03 September 2017
Kejadian 1 : 27 – 28; 2 : 18; Matius 19 : 11 – 12; 1 Korintus 7

Pernikahan adalah topik yang sangat menarik bagi banyak orang, tanpa memandang suku, gender, status sosial serta latar belakang pendidikannya. Salah satu buktinya, cobalah ketik kata “pernikahan” di mesin pencari, maka akan muncul 6.110.000 web atau pages. Atau coba ketik kata “marriage” maka muncullah 746.000.000 web yang membahas topik tersebut. Angka yang sangat luar biasa bukan!
Tetapi meskipun begitu menarik, apakah setiap orang harus menikah? Karena faktanya, banyak pernikahan terjadi karena alasan-alasan yang tidak tepat, misalnya : karena tekanan sosial dari keluarga atau masyarakat, faktor usia atau merasa galau dengan status sebagai “jomblo forever.” Sementara banyak pula yang memilih tidak menikah dengan mendasarkannya pada alasan-alasan yang mereka anggap cukup dapat dipertanggungjawabkan.
Permasalahannya adalah motif atau alasan yang seperti apa yang harus jadi dasar bagi seseorang sebelum memutuskan untuk memilih menikah atau tidak menikah?.
Dari beberapa bacaan firman Tuhan di atas, kita menemukan kebenaran-kebenaran yang dapat menolong kita untuk menjawab hal itu, yakni :
1. Pernikahan adalah rancangan Allah ketika menciptakan laki-laki dan perempuan, Kej 1:27-28; 2:18
Tujuan Allah menciptakan manusia adalah agar manusia menjadi pelaksana dari mandat budaya atas seluruh ciptaan-Nya (ay 26,28). Lalu agar manusia dapat melaksanakan mandat itu, Allah menciptakan bukan cuma laki-laki, tetapi juga perempuan (ay 27).

Mengapa begitu? Maksudnya jelas, tanpa adanya laki-laki dan perempuan tidak akan ada pernikahan. Dan jika tidak ada pernikahan, maka tidak akan lahir keturunan (anak cucu) yang dimaksud Allah (ay 28). Jadi pernikahan adalah juga rancangan Allah, saat Allah menciptakan laki-laki dan perempuan.
Maka jelaslah bahwa Allah tidak menciptakan hanya Adam tetapi juga Hawa, yang dimaksudkan untuk menjadi jodoh dan penolong yang sepadan bagi Adam
Dari hal ini kita belajar satu prinsip kebenaran bahwa pasangan yang akan menjadi suami atau istri kita, haruslah datang karena campur tangan Allah dan bukan semata-mata karena pilihan kita sendiri. Sebab kita bisa keliru memilih dan jika sudah keliru maka konsekuensinya bisa menjadi amat serius, bnd Kej 6:1-8; 1 Raja 11:1-11

2. Hidup melajang adalah juga panggilan dari Tuhan, Mat 19:11-12; I Kor 7
Selain pernikahan, ternyata hidup melajang juga disebutkan sebagai sebuah panggilan istimewa dari Allah bagi anak-anakNya. Hal itu, tercermin dari pemahaman Paulus sendiri tentang dirinya yang tidak menikah sebagai sebuah panggilan khusus dari Allah dan bukan karena tekanan lingkungan, usia, status. Karena itu, tidak semua orang harus sama seperti dirinya, sebab masing-masing menerima karunianya yang berbeda-beda, bnd 1 Korintus 7:7. Jadi semua harus saling menerima dan menghargai satu sama lain. Dalam hal ini, Yesus juga memiliki jawaban yang kurang lebih sama dengan Paulus
Bagi Yesus, alasan yang paling utama ketika seseorang merelakan diri untuk tidak menikah adalah oleh karena kerajaan sorga (Mat 19:11-12), maksudnya karena ingin fokus sepenuhnya untuk melayani Tuhan sesuai dengan panggilan Tuhan baginya

Jadi bukan pilihan untuk tidak menikah yang coba “dikoreksi” Yesus dari murid-muridNya, tetapi apa yang seharusnya jadi motif atau alasan dibalik pilihan mereka untuk tidak menikah. Itu yang harus sungguh-sungguh jelas dan benar
Maka, dapat disimpulkan bahwa baik menikah atau tidak menikah :
a. Kedua hal itu harus berdasarkan motif atau alasan yang jelas dan benar sesuai firman Tuhan, sehingga dapat juga mengambil keputusan yang benar terhadap kedua hal itu
b. Melibatkan Tuhan dalam menentukan jodoh atau pasangan hidup adalah hal yang sangat penting dan mutlak
Yang menikah jangan jadi sombong dan merendahkan atau menolak yang tidak menikah. Sebaliknya, yang tidak menikah jangan merasa takut, minder atau malu dengan kondisinya.

~ Pdt. Widianto Yong ~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *