Ciri Anak-anak Allah

Referensi Kotbah15 April 2018

I Yohanes 3 : 1 – 10

Kebenaran yang disingkapkan oleh Yohanes bahwa Allah adalah Bapa Surgawi kita dan kita adalah anak-anak-Nya merupakan salah satu pernyataan terbesar dalam Perjanjian Baru. Menjadi anak Allah adalah hak yang sangat istimewa setelah kita diselamatkan. Dengan menjadi anak Allah, bukan saja kita menjadi ahli waris Kerajaan Surga, tetapi kita juga dijadikan serupa dengan Yesus (Roma 8:29) baik dalam kesucian-Nya (ayat 3) maupun dalam kebenaran-Nya (ayat 7).

Setiap kita tentu menyadari begitu sulitnya kita bergumul dengan dosa-dosa kita setiap hari bahkan setiap saat, baik dalam pikiran, perkataan, maupun perbuatan kita. Maka wajar ketika kita bertanya dalam hati, bagaimana saya menjadi serupa seperti Yesus dalam kesucian-Nya dan kebenaran-Nya?

Yohanes menegaskan bahwa ketika kita menyadari status baru kita sebagai anak Allah, maka kita tidak akan membiarkan diri kita disesatkan oleh seseorang atau sesuatu yang bukan kebenaran. Allah telah membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis sehingga Iblis sama sekali tidak punya kuasa lagi atas anak Allah. Sebab di dalam diri anak Allah yang lahir dari Allah ada benih ilahi yang memampukannya untuk tidak berbuat dosa lagi bahkan tidak dapat berbuat dosa lagi sebab ia lahir dari Allah (ayat 9). Akan tetapi, jika kita melihat kehidupan kita sehari-hari, benarkah kita “tidak dapat berbuat dosa lagi?” Apa yang dimaksud nas ini, ketika dikatakan bahwa kita tidak dapat berbuat dosa lagi? Bagaimana caranya agar kita tidak dapat berbuat dosa lagi?

Kebenaran yang disingkapkan oleh Yohanes bahwa Allah adalah Bapa Surgawi kita dan kita adalah anak-anak-Nya merupakan salah satu pernyataan terbesar dalam Perjanjian Baru. Menjadi anak Allah adalah hak yang sangat istimewa setelah kita diselamatkan. Dengan menjadi anak Allah, bukan saja kita menjadi ahli waris Kerajaan Surga, tetapi kita juga dijadikan serupa dengan Yesus (Roma 8:29) baik dalam kesucian-Nya (ayat 3) maupun dalam kebenaran-Nya (ayat 7).

Setiap kita tentu menyadari begitu sulitnya kita bergumul dengan dosa-dosa kita setiap hari bahkan setiap saat, baik dalam pikiran, perkataan, maupun perbuatan kita. Maka wajar ketika kita bertanya dalam hati, bagaimana saya menjadi serupa seperti Yesus dalam kesucian-Nya dan kebenaran-Nya?

Yohanes menegaskan bahwa ketika kita menyadari status baru kita sebagai anak Allah, maka kita tidak akan membiarkan diri kita disesatkan oleh seseorang atau sesuatu yang bukan kebenaran. Allah telah membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis sehingga Iblis sama sekali tidak punya kuasa lagi atas anak Allah. Sebab di dalam diri anak Allah yang lahir dari Allah ada benih ilahi yang memampukannya untuk tidak berbuat dosa lagi bahkan tidak dapat berbuat dosa lagi sebab ia lahir dari Allah (ayat 9). Akan tetapi, jika kita melihat kehidupan kita sehari-hari, benarkah kita “tidak dapat berbuat dosa lagi?” Apa yang dimaksud nas ini, ketika dikatakan bahwa kita tidak dapat berbuat dosa lagi? Bagaimana caranya agar kita tidak dapat berbuat dosa lagi?

~ Pnt.K. Aronika Hutasoit ~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *