BERMEGAH DALAM KARYA PEMBENARAN

Referensi Kotbah 16 Juni 2019

Roma 5 : 1 – 11

Apa yang membuat iman Kristen menarik dan berbeda dengan iman agama lain? Apakah karena kita sudah melakukan tradisi keagamaan, apakah sudah melakukan sedekah, sudah melakukan kebajikan, sudah melayani, puasa, memberikan bantuan kepada orang yang miskin, melakukan kegiatan sosial dan lain-lainnya. Tentunya perbuatan-perbuatan ini baik tetapi bukan jaminan bahwa apa yang dilakukan memiliki kebenaran dan didasari pada iman yang benar.
Pada Minggu ini kita mau merenungkan firman Tuhan dari tulisan Rasul Paulus kepada jemaat di Roma, bagaimana hidup orang percaya (Kristen) bukan hanya karena perbuatan baik seseorang tetapi sesungguhnya hasil dari pembenaran dari iman kepada Kristus. Pembenaran berarti bukan kita sudah benar tetapi kita dibenarkan oleh pemilik kebenaran itu yaitu Tuhan. Paulus Sadar dengan kekuatan dosa yang ada di dalam diri setiap manusia apapun yang dilakukan tidak akan menghasilkan kebenaran, karena akibat dosa membuat manusia kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23). Dan karena dosa satu orang sudah menjalar kepada semua orang karena semua orang telah berbuat dosa ( Roma 5:12), sehingga semua usaha manusia untuk mendapatkan pembebasan dan pendamian atas dosa akan sia-sia.
Sejak awal surat Roma ini ingin mengingatkan bahwa “orang benar akan hidup oleh iman” (Roma 1:17). Oleh sebab itu, dalam melakukan segala perbuatan yang ada Paulus ingin membawa kita dalam iman kepada Kristus.

Karya Kematian Kristus ketika kita masih berdosa dan karena itu kita dibenarkan oleh iman kepadaNya. Tulisan Paulus ini ingin membawa kita bagaimana bermegah dalam karya pembenaran. Diantaranya:
1. Kristus Harus sebagai Pusat Iman (ay. 1-2). Kata “sebab itu” ingin memberikan penjelasan pembenaran adalah karena iman kepada Yesus Kristus bukan yang lain. Kristus adalah Jalan masuk kepada Iman dan kasih karunia. Memiliki Kristus adalah syarat mendapat pembenaran itu. Sehingga ketika kita menjadikan Kristus pusat keimanan membuat dapat bermegah di dalam pengharapan. Paulus menekankan bahwa tidak akan ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus (Roma 8:1).
2. Memilikilah rumusan kekekalan (ay. 3-5). Setelah memiliki Kristus bukan hidup orang menjadi mudah, penuh dengan pujian atau semua hidup cukup dengan iman. Semua hidup akan dialami, situasi yang sengsara sekalipun tetapi di dalam peristiwa yg dialami ada selalu disiapkan Jalan keluar dan ada harapan. Oleh sebab itu, Paulus mengingatkan bahwa memiliki Kristus dapat bermegah dalam kesengsaraan, karena kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Beriman kepada Yesus dapat melangkah di tengah badai hidup, Kesengsaraan bukan akhir dari segala-galanya, tetapi awal untuk hidup dalam pengharapan di dalam Kristus.
3. Semua karena KasihNya atas Manusia Berdosa (ay. 6-11). Manusia ingin menyelamatkan dirinya sendiri tentu tidak akan bisa, segala upaya yg dilakukan oleh manusia yang masih berdosa tidak sampai pada kekudusan Allah, karena dosa yang sudah membuat hilang kemuliaan Allah. Semua yang di terima oleh kita adalah pemberian dari pada Yesus yang telah mati. Kita bermegah bukan karena kita mampu berbuat segala hal, semua karena pemberian Yesus yang mati ketika kita masih berdosa, ini semua karena kasih karunia-Nya, karena kasih-Nya kita memperoleh pendamaian.

Minggu pertama setelah pentakosta ini, mengingatkan kita kembali bahwa kemampuan untuk melakukan kebaikan bukan karena kita, bahkan ketika sudah melakukan kebenaran dan kebaikan bukan menjadi kesombongan, kita dimampukan karena Kuasa Roh Kudus yang dijanjikan oleh Kristus untuk menyertai orang percaya. Oleh sebab itu marilah kita menjalani kehidupan ini bukan hanya berdasarkan kemampuan Pribadi, kehebatan yang dimiliki, semua karena pemberian dari Tuhan. Ketika hidup kita sengsara juga jangan lupakan Karya-Nya buat kita, karena di dalam Kristus ada Pengharapan yg tidak akan mengecewakan.
Selamat menjalani Hidup Bermegah dalam karya Pembenaran oleh pertolongan dan penyertaan Tuhan Yesus Kristus.

~ Pnt.K. Andri Wahyudi ~