Aku dan Pemerintah

Referensi Kotbah, 10 Februari 2019

Roma 13 : 1 – 7

Surat Roma ditulis oleh Paulus, rasul Tuhan Yesus. Ia melayani antara tahun 34 sampai dengan tahun 67 Masehi. Memperhatikan tahun pelayanannya, maka jelaslah ia melayani pada masa pemerintahan kekaisaran Romawi. Kaisar yang memerintah pada masa perjanjian Baru antara lain ialah Nero. Kaisar Nero dikenal sebagai penganiaya jemaat Tuhan. Perbuatannya seperti membakar orang kristen pada tiang dan dijadikan sebagai obor penerang dalam pesta yang diadakannya, orang kristen diadu dan dicabik-cabik binatang buas, adalah tindakan yang sangat keji. (John Foxe, Foxe’s Book of Martyrs. Kisah Para Martir, Penerbit Andi, hlm.10) Di tengah-tengah situasi dan kondisi pemerintah seperti ini, Paulus mengirimkan surat kepada jemaat di Roma. Isi surat yang tentu menimbulkan pertanyaan-pertanyaan bagi kita saat ini. Bukankah Nero sangat kejam? Bukankah ia penganiaya jemaat? Untuk memahami apa yang dituliskan oleh Paulus, sangat penting bagi kita untuk menyimak beberapa hal; Pertama, Tersirat dalam surat ini, Paulus bukan menyetujui tindakan pemerintah yang kejam dan sewenang-wenang, sebab dalam suratnya Paulus menyatakan dengan jelas prinsip tentang apa itu pemerintah. Pemerintah yang disebut hamba Allah adalah pemerintah yang melakukan fungsinya untuk melakukan kebaikan. Menghargai perbuatan baik dari warga dan menghukum tiap orang yang melakukan kejahatan, ayat 3-4. Kedua, Paulus mengingatkan jemaat untuk tidak melakukan perlawanan atau memberontak, karena pemerintah yang kejam dan berkuasa secara mutlak akan menyebabkan dampak yang lebih buruk dan fatal bagi keberadaan jemaat.

Jika demikian, apa yang harus dilakukan? Paulus menasihatkan jemaat hendaklah bersikap baik. Tidak membalas kejahatan dengan kejahatan dan itu sesuai ajaran Kristus, Lukas 6:27-36. Sebagaimana ditulis oleh Paulus dalam Roma 12:17; “Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan…” Akibatnya apa yang terjadi dalam sejarah? Kekaisaran Romawi menjadi kristen pada tahun 312 M, setelah Konstantinus Agung percaya kepada Kristus.

Selanjutnya dalam ayat 6-7 Paulus menyatakan hal praktis dalam kaitan jemaat dengan pemerintah; “itulah juga sebabnya maka kamu membayar pajak…” Membayar pajak kepada penjajah adalah hal yang selalu menjadi masalah bagi masyarakat Yahudi. Persoalan ini pernah dipakai oleh orang Farisi bersama dengan orang Herodian untuk menjerat Yesus (Injil Matius 22:15-22), dengan harapan mendapatkan alasan untuk mempersalahkan dan menyingkirkan Yesus. Pertanyaan jebakan ialah apakah boleh atau tidak boleh membayar pajak kepada kaisar. Jika dijawab “boleh” Yesus dituduh sebagai pendukung penjajah dan jika menjawab “tidak boleh”, akan diadukan sebagai penganjur pemberontakan. Atas pertanyaan ini, Yesus menjawab; “Berikanlah kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” Membayar pajak, adalah salah satu dari sikap ketaatan jemaat kepada pemerintah. Tuhan Yesus memakai kata “berilah kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan…” Selanjutnya bagaimana dengan kita? Firman Tuhan mengajak kita untuk menghargai, menghormati pemerintah sebab Tuhan berdaulat atas segala hal. Jemaat diajak untuk melakukan kebaikan bukan pemberontakan dan perlawanan. Sebab berbuat baik sekalipun terhadap oang yang berbuat jahat adalah bagian dari hukum kasih. Jemaat dalam kaitan dengan pemerintah juga diingatkan untuk setia melakukan kewajibannya sebagai bagian dari warga suatu bangsa.

~ Pdt. Dennie Olden Frans ~