Menunda Kesenangan

 

Referensi Kotbah 19 Februari 2017
Lukas 9 : 22 – 27

Banyak orang Kristen yang menganggap dirinya sedang memikul salibnya ketika mengalami penderitaan, misalnya ketika sakit kanker, gagal dalam rumah tangga, anaknya lahir cacat, anaknya terlibat narkoba, dll.

Tuhan Yesus mengatakan dalam ayat 23 bahwa setiap orang yang mau mengikut Dia harus menyangkal diri dan memikul salib; artinya, siap menderita dan berkurban demi Kristus dan untuk orang lain. Kristus sendiri sudah memberikan teladan kepada kita: demi ketaatan-Nya kepada Allah Bapa di surga maka Dia rela menderita dan berkurban mati di atas kayu salib untuk keselamatan umat manusia dari hukuman dosa. Dalam doa Tuhan Yesus di taman Getsemani, Ia mengatakan : “Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi” (Lukas 22 : 42). Fokus kehidupan Yesus di sini bukan salib atau penderitaan-Nya, tapi fokusnya adalah kehendak Allah Bapa. Sebagai manusia normal, tentunya Tuhan Yesus juga tidak menghendaki penderitaan, tetapi kalaupun Dia harus menderita Ia rela menanggungnya sebagai ketaatan menjalankan kehendak Bapa-Nya. Read more

Hidup Digerakan Kasih

 

Referensi Kotbah 12 Februari 2017
Roma 12 : 9 – 21

Menyimak kitab Roma secara ringkas maka pada umumnya kita menemukan bahwa Paulus mengemukakan pengajaran kepada jemaat berkaitan dengan doktrin dalam pasal 1-11, antara lain: dosa, upah dosa, kasih karunia Allah, keselamatan, pembenaran, pengudusan, serta panggilan pelayanan dan karunia. Berikutnya, pada pasal 12 Paulus menegaskan bahwa jemaat Tuhan bukan hanya memiliki pengetahuan yang benar, tetapi pengetahuan yang benar serta karunia dari Tuhan mesti terwujud dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana seharusnya kehidupan jemaat Tuhan yang telah mengalami kasih Tuhan? Roma 12:9-21 mengemukakan beberapa hal penting yang seharusnya terwujud dalam kehidupan orang percaya. Read more

Mencari, bukan menunggalkan

 

Referensi Kotbah 05 Feb 2018
Amos 5 : 4 – 6

Teguran seringkali tidak menyenangkan bahkan sering memerahkan telinga. Apalagi jika ditegur saat berada dalam zona nyaman. Begitulah kira-kira kondisi yang dialami oleh bangsa Israel saat mendapat teguran Tuhan melalui nabi Amos. Saat itu, di bawah pemerintahan raja Yerobeam, keadaan ekonomi bangsa Israel sebenarnya dapat dikatakan sedang bagus. Keadaan bangsa yang sedang baik itu melahirkan kenyamanan bagi sebagian penduduk. Namun kondisi itu sebenarnya hanya permukaan luar saja, sesungguhnya pemerintahan Yerobeam adalah pemerintahan yang tidak mempedulikan moralitas, keadilan sosial, apalagi spiritual. Belum lagi ibadah-ibadah mereka yang meninggalkan Tuhan dan menggantikannya dengan para berhala membuat murka Tuhan menyala atas mereka. Kini Tuhan mengutus Amos kepada Israel. Amos adalah seorang peternak dari Tekoa di Yehuda. Tapi dia mendapat panggilan dari Tuhan untuk pergi ke Israel dan menyampaikan suara Tuhan. Read more

PERPULUHAN : SUATU TANTANGAN IMAN ATAS PEMELIHARAAN ALLAH

 

Referensi Kotbah 15 Januari 2017
Maleakhi 3 : 10

Kata “persepuluhan” (“persepuluhanmu”; “persepuluhannya”); “sepersepuluh” dipakai dalam Alkitab sebanyak 65 kali – 54 kali dalam PL dan 11 kali dalam PB (Sumber:http://alkitab.sabda.org/search.php?search), antara lain Im. 27: 30-33; Bil. 18: 21-28; Ul. 12: 6 & 17; 14: 22-29, Neh 13: 12; Luk. 18: 12; Mat. 23: 23; Ibr. 7: 9 dan lain sebagainya. Salah satunya ada di dalam nas kita hari ini. Dasar pengajaran tentang persepuluhan adalah berkaitan dengan dunia pertanian dan peternakan pada masa itu. Hasil tanah dan ternak yang dipersembahkan dan dikhususkan atau dikuduskan bagi Tuhan, menjadi milik Allah. Dalam perkembangannya karena situasi agar tidak mengotori Bait Allah dan juga memperhitungkan jarak yang jauh dari rumah ke Bait Allah untuk membawa banyak hasil, maka kemudian persembahan persepuluhan menggunakan bentuk uang. Read more

HIDUP YANG DIARAHKAN OLEH TUHAN

Referensi Kotbah 08 Januari 2017

Lukas 5 : 27 – 32

“Kemudian, ketika Yesus pergi ke luar, Ia melihat seorang pemungut cukai, yang bernama Lewi, sedang duduk di rumah cukai. Yesus berkata kepadanya: “Ikutlah Aku!” Maka berdirilah Lewi dan meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikuti Dia.”
(Lukas 5:27-28)

Siapakah Lewi? Mengapa ia mau meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Yesus? Lewi adalah nama Ibrani; dalam bahasa Yunani, ia dikenal sebagai Matius. Pekerjaan Lewi adalah pemungut cukai, kerennya tax collector. Saat itu Israel ada di bawah pemerintahan Romawi yang memungut cukai dari orang Israel. Itu jelas sangat dibenci oleh Israel, maka para pemungut cukai juga dibenci masyarakat. Dalam pengajaran para rabi, pemungut cukai bahkan disebut tidak memiliki pengharapan dan dikucilkan dari segala ritual keagamaan; mereka disebut sebagai golongan orang berdosa.

Kalau kita melihat dari sudut pandang Lewi, kita dapat memahami beberapa pergumulannya: Read more

Sesungguhnya Aku Ini Hamba Tuhan

Referensi Kotbah 18 Desember 2016
Lukas 1 : 26 – 38

Tema khotbah minggu ini diambil dari Injil Lukas 1:38. Ini adalah bagian dari perkataan Maria saat menerima lawatan malaikat Tuhan yang menyatakan bahwa Maria menerima kasih karunia atau menerima kemurahan yang juga dapat berarti sebagai sebuah kehormatan. Karunia atau kemurahan seperti apa? Malaikat menyatakan bahwa Maria akan melahirkan Sang Juruselamat, sekalipun ia belum bersuami. Selanjutnya Malaikat menegaskan bahwa walapun demikian, Roh Kudus akan turun atasnya, dan kuasa Allah yang maha tinggi akan menaunginya. Untuk meyakinkan Maria, malaikatpun menyampaikan bahwa Elisabet pada hari tuanya (yang normalnya tidak mungkin mengandung) sedang mengandung. Kesaksian ini tentu meneguhkan Maria, bahwa belum bersuami dan mandul adalah dua hal yang mirip, sama-sama tidak mungkin mengandung. Tetapi itu mungkin bagi Allah, sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil. Atas semua penyataan dari Malaikat itu, Maria menyatakan: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba (doulos) Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu (rhema) itu.”Rangkaian percakapan Maria dan Malaikat sehingga sampai pada pengakuan Maria bahwa ialah adalah “hamba Tuhan”, mengemukakan kepada kita beberapa hal penting: Read more

Sesudah Kegelapan, Terang !

Referensi Kotbah 04 Desember 2016
Yesaya 8 : 23 – 9 : 6

Dalam masa pelayanan Nabi Yesaya, Kerajaan Israel telah terpecah dua, kerajaan yang juga bernama Israel di utara dan Kerajaan Yehuda di selatan. Di sisi utara Kerajaan Israel ada Kerajaan Aram dan di sebelah utaranya lagi ada Kerajaan Asyur. Asyur pada masa itu sedang melakukan ekspansi dan banyak wilayah telah ditaklukkan. Aram yang merasa terancam telah bersekutu dengan Israel untuk menghadapi Asyur. Supaya pakta militer itu lebih kuat, mereka mengajak Yehuda bergabung, namun Yehuda menolak. Untuk memaksa Yehuda, mereka menyerang Yerusalem. Dalam keadaan kritis ini Raja Ahas dan penduduk Yerusalem sangat ketakutan, sampai-sampai ditulis dalam Yesaya 7:2 mereka ”gemetar ketakutan seperti pohon-pohon hutan bergoyang ditiup angin.” Read more

1 2 3 26